Oleh: Sairul Sidiq | Desember 1, 2008

Karakteristik Pemimpin Nasional Yang Transformatif

Istilah Kepemimpinan berasal dari kata dasar “pimpin” yang artinya bimbing atau tuntun. Dari kata pimpin lahirlah kata kerja “memimpin” yang artinya membimbing atau menuntun dan kata benda artinya “pemimpin” yaitu orang yang berfungsi memimpin, atau orang yang membimbing atau menuntun. Mereka yang berposisi didepan (pemimpin) lah yang memberi (menjadi) teladan (ing ngarsa sung tuladha). Mereka yang berada ditengah-tengah massa menjaga tegaknya karsa atau cita-cita (ing madya mangun karsa). Para pengikut atau yang dipimpin menyumbang daya atau tenaga atau semangat (tut wuri handayani). Apa atau bagaimana hubungannya dengan asas TRI-KON Ki Hajar Dewantara. Bagaimana hubunga nnya dengan segi-segi emas Plato dimana garis tinggi (lambang cita-cita) sama dengan garis berat (lambang potensi) sama dengan garis bagi (lambang tata / tata cara kerja). Penafsiran seperti itu tentu saja berhubungan dengan Agama Kepemimpinan-Kepemimpinan Agama, yang dalam kadar tertentu bertitik temu dengan Budaya Timur, Barat, Utara Selatan, serta bertitik singgung dengan Kepemimpinan Budaya-Kepemimpinan Agama.

Setelah mengamati kejadian demi kejadian bangsa Indonesia sampai kepada pokok bahasan perihal reformasi kepemimpinan-kepemimpinan reformasi. Sholat itu tiang Agama. Siapa yang jadi Imam? Semesta nilai Siapa yang jadi makmum? Data-data faktual. Bagaimanakah urutan lafal dan gerakan imam? Bagaimana system konsekuensi ayat serta moralitas dibaliknya? Bagaimana halnya dengan gerakan makmum? Lurusnya dan rapatnya shaf demi shaf? Sholat itu mi’radj orang-orang beriman. Apa makna hakikinya? Orang bangun dibanding dengan orang tidur itu berat mana? Orang mati dibanding orang hidup itu berat mana? Bagaimana dengan wanita (sebagai istri) ketika ditiduri pria (sebagai suami) ringan atau keberatan? Meminjam istilah Damardjati Supadjar Pemimpin itu meringankan beban (yang dipimpin) atau yang memberati yang dipimpin.

Sebagai tolok ukur berikut penulis kemukakan teori kepemimpinan (S. Pamudji : 1995) , Pertama; teori serba sifat (traists theory); teori ini pada mulanya didasarkan atas penelitian terhadap sifat-sifat “orang besar” didasarkan atas sifat-sifat yang dibawa sejak lahir, jadi merupakan sesuatu yang diwariskan. Teori ini kemudian dikenalkan juga sebagai “teori orang besar(great man theory). Oleh karena pemimpin dianggap memiliki sifat-sifat yang dibawa sejak lahir dan ia menjadi pemimpin karena memiliki bakat-bakat kepemimpinan, maka teori ini juga disebut teori genetis. Teori ini berkesimpulan bahwa “leaders are born and not made” (pemimpin-pemimpin dilahirkan dan tidak dibentuk), dengan istilah lain teori ini disebut sebagai teori bakat. Kedua; teori sosial teori ini menyatakan bahwa “leaders are made not born” (pemimpin-pemimpin dibentuik bukannya dilahirkan). Seseorang akan muncul sebagai pemimpin apabila ia berada dalam lingkungan sosial, yaitu suatu kehidupan kelompok, dan memanfaatkan situasi dan kondisi sosial untuk bertindak dan berkarya mengatasi masalah-masalah sosial yang timbul. Ketiga; teori lingkungan (environmental theory), sejalan dengan teori ini ialah teori sosial yang menyatakan bahwa “leaders are made not born” (pemimpin-pemimpin dibentuk bukannya dilahirkan). Seseorang akan muncul sebagai pemimpin apabila ia berada dalam lingkungan sosial, yaitu suatu kehidupan kelompok, dan memanfaatkan situasi dan kondisi social untuk bertindak dan berkarya mengatasi masalah-masalah sosial yang timbul.

Keempat; teori pribadi dan situasi (personal-situasional theory); pemimpin harus mengenal dirinya dalam arti sifat-sifatnya, mengenal kelompok yang dipimpin, mengenal situasi dan kondisi dan selanjutnya mengembangkan sifat-sifatnya sendiri kearah yang sesuai dengan kelompok yang dipimpinnya dan sesuai pula dengan situasi dan kondisi di mana ia memimpin. Ia harus mampu menciptakan kemudahan-kemudahan untuk merangsang kegiatan-kegiatan kelompok untuk mencapai tujuan. Kelima; teori interaksi dan harapan (interaction-expectation theory); teori ini berasumsi bahwa semakin terjadi interaksi dan partisipasi dalam kegiatan bersama semakin meningkat perasaan saling menyukai (menyenangi) satu sama lain dan semakin memperjelas pengertian atas norma-norma kelompok. Demikian pula semakin tinggi seseorang dalam kelompok, semakin besar jumlah anggota kelompok yang tergerak. Yang penting harus dijaga agar aksi-aksi pemimpin tidak mengecewakan harapan-harapan. Dengan mengemukakan bahwa keefektifan pola perilaku pemimpin yang ada tergantung pada tuntutan-tuntutan yang dihadapkan oleh situasi. Pemimpin yang memelihara jarak sosial (dengan anak buah) cenderung lebih efektif dalam situasi-situasi yang sangat mudah dan sangat sulit. Semakin tinggi perasaan keakraban pemimpin dengan anak buahnya semakin lebih efektif dalam situasi dimana dituntut kepemimpinan yang moderat.

Keenam, Teori humanistik (humanistic theory); teori ini mendasarkan diri pada dalil “the human being is by nature a motivated organism; the organization is by nature structured and controlled” (manusia adalah organisme yang dimotivasi, sedangkan organisasi karena sifatnya adalah tersusun dan terkendali). Fungsi kepemimpinan adalah membuat organisasi sedemikian rupa sehingga memberikan sedikit kebebasan atau kelongaran kepada individu untuk mewujudkan motivasinya sendiri yang potensial untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dan pada saat yang bersamaan memberikan sumbangan bagi pencapaian tujuan organisasi. Ketujuh; teori tukar menukar (exchange theory); teori ini berdasarkan asumsi bahwa interaksi sosial menggambarkan suatu bentuk tukar-menukar dalam mana anggota-anggota kelompok memberikan kontribusi dengan pengorbanan-pengorbanan kelompok atau anggota-anggota yang lain. Interaksi berlangsung terus, oleh karena anggota-anggota merasakan tukar-menukar secara sosial ini saling memberikan penghargaan. Demikian pula antara pemimpin dan yang dipimpin, antara anggota-anggota yang dipimpin satu sama lain harus berlangsung tukar menukar keuntungan dan keenakan, harus saling memberi dan menerima. Dengan jalan demikian maka akan selalu terjadi gerak, yaitu gerak dari pengikut-pengikut yang digerakkan oleh pemimpin. Hal ini dapat terjadi karena saling menguntungkan. Jadi dalam teori ini ditekankan adanya “give and take” antara pemimpin dan yang dipimpin, oleh karenanya teori ini juga disebut teori beri-memberi atau dapat juga disebut saling memberi dan menerima.

Sebagai jawaban dari pertanyaan yang tersirat dalam judul di atas dalam istilah lain mencari sosok pemimpin Nasional yang bisa memajukan Indonesia maka konsep pemimpin ideal untuk bangsa ini adalah; Pertama; modal intelektual, yang dimaksud adalah cerdas, visioner, mampu memecahkan masalah, mau belajar dan diajari, memiliki kompetensi, memiliki inisiatif dan fokus. Kedua; modal emosional, disini pemimpin dituntut harus memiliki keberanian, semangat tinggi, sikap positif, mental stabil dalam tekanan, disiplin diri dan komitmen tinggi. Ketiga; modal sosial, pemimpin harus memiliki keterampilan yaitu kemampuan komunikasi, kemurahan hati, mau mendengar orang lain, mampu berhubungan dengan semua pihak, memiliki sifat suka melayani (servant leader). Keempat; etika dan karakter jujur, amanah, memegang prinsip kebenaran, amal makruf nahi munkar, karismatik bukan karena keturunan orang besar. Kelima; modal kesehatan, yang dimaksud disini fungsi ke lima Panca Indera normal, fungsi seksual normal (kalau impotent seperti Hitler akan kejam sekali), kesehatan baik dan energetik.

Demikianlah beberapa teori mengenai kepemimpinan yang pada dasarnya mengakui bahwa munculnya seorang pemimpin oleh karena faktor-faktor lingkungan dan faktor individu yang berinteraksi dan menghasilkan sifat atau ciri tertentu yang cocok untuk situasi dan kondisi tertentu. Hemat penulis pemimpinan sejati untuk memajukan bangsa ini harus memiliki cirri-ciri kepemimpinan sebagaimana telah dikemukakan di atas dan yang lebih penting adalah seyogyanya pemimpin itu tidak mendeklarasikan diri untuk menjadi pemimpin karena kekuasaan itu tidak untuk diperebutkan, tetapi untuk melayani rakyat. Maka sejauh dikehendaki rakyat dan rakyat memintanya, tugas untuk melayani dan mengabdi tidak bisa ditolak karena itu panggilan sejarah (kompas,23-06-08). Maka dalam kesempatan ini kami FOR “SUN” (FORUM SULTAN UNTUK NASIONAL) memanjatkan do’a kehadirat Tuhan Yang Maha Esa “Allah SWT” agar supaya “Bapak Sri Sultan Hamengku Buwono X” diRidhoi-NYA menjadi “Imam” di Nusantara ini. Forum Sultan Untuk Nasional FOR “SUN” Siap menjadi relawan mendukung dan memperjuangkan Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Pemilihan Umum Presiden 2009 sehingga beliau Terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia 2009-2014.


Responses

  1. apakah mungkin benar yang dikatakan sebagian kalangan bahwa sekarang sudah idealisme mahasiswa sudah hilang mereka menuju era materialisme. setiap orang berlomba – lomba untuk mencari kekuasaan. dengan serentetan gelar, jabatan, pengalaman organisasi yang terus bergelantungan telah memaksa pemikiran seseorang untuk berbuat arogan dengan mengikuti irama politik praktis.
    dimana letak nurani wahai saudaraku..
    saat kaum muda berteriak akan kebebasan dari belenggu-belenggu yang menjerat leher para kaum tertindas. malah berlomba untuk mencari simpatik dari calon penguasa negeri ini.
    sungguh ironis memang…
    apa yang kau cari.
    Hidup mahasiswa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    Hidup Rakyat!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    Admin say:
    Terimakasih atas tanggapannya. Harus kita sadari bahwa peran pemuda untuk melakukan perubahan di Nusantara ini sangat dirindukan oleh ibu pertiwi, dalam kontek ini kita tidak mencari simpati atau bahkan materi tapi ini adalah bentuk pengabdian dan tanggung jawab kaum muda dalam menentukan nasib NKRI kedepan. Kita sudah pernah diPimpin oleh sosok yang Nasionalis, kita juga lama dipimpin oleh sosok militeris, juga sudah pernah dipimpin oleh sosok sipil, sekarang saatnya kita harus diPimpin oleh sosok yang tidak mengatakan bahwa matahari itu hijau, atau kuning atau merah tetapi yang dibutuhkan adalah pemimpin yang tegas menyatakan bahwa matahari ya MATAHARI..!!!

  2. Khabar Betik diza. Terima kasih tetapi saya belum bisa kesana… cuma mendoakan semoga berjalan lancar, dan akan menjadi tali silahturahmi yang kuat diantara anak-anak way Kanan yang bersekolah di Jogja.

    Heri Hidayat
    Baradatu, Way Kanan


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: