TENTANG SULTAN HB X

sh

APA BISA TAHAN? Pekerjaan susah, pendidikan dan kesehatan mahal, hidup tidak tentram,

SAATNYA BERSATU
SAATNYA MENGUBAH

Dengan memohon petunjuk Tuhan Yang Maha Esa dan dengan niat tulus memenuhi panggilan Ibu pertiwi dengan ini saya menyatakan SIAP MAJU MENJADI PRESIDEN RI 2009

Hamangku, Hamengku, Hamengkoni
Sri Sultan Hamengku Buwono X
Oleh : Sairul Sidiq, SH.
Para pemikir sekarang mewacanakan “globalisasi”, Ki Hadjar pada zamannya memakai istilah “pengaruh zaman”. Di sini, jendela-jendela tradisi perlu dibuka dan cara hidup ditafsir ulang. Dengan cara demikian, seorang pujangga menangani sekaligus dua pekerjaan rumah. Melakukan konservasi tanpa harus menjadi konservatif dengan cara membuat tradisinya tetap relevan dengan “semangat zaman”, menganut hukum “kodrat-alam”, “continuity and change”, yang ada kesesuaiannya dengan asas “Tri-kon”. Bahwa dalam pertukaran budaya harus tetap ada “kontinuitas” dengan alam kebudayaan sendiri, tetapi juga ada “konvergensi” dengan budaya-budaya lain yang akhirnya mewujudkan budaya global yang “konsentris”. Berarti, bertitik-pusat satu dengan alam-alam kebudayaan sedunia, tetapi tetap memiliki garis-lingkarannya sendiri, wujud semangat ke-Bhinneka Tunggal Ikaan kita Bagi kebudayaan, apa yang kini dikenal sebagai globalisasi bukanlah hal baru. Sejarah menunjukkan, di masa lampau globalisasi telah berulangkali melakukan persentuhan dengan budaya-budaya lokal di seluruh Nusantara. Dulu, proses persentuhan budaya lokal dengan tradisi-tradisi besar dunia telah melahirkan keragaman budaya Nusantara. Persentuhan yang dinamik itu tidak muncul dengan sendirinya, tetapi lahir dari suatu proses tawar-menawar yang akhirnya berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan suatu wilayah tersebut.
Gaya kepemimpinan konvensional seperti budaya malu masih sangat efektif penerapannya di lingkungan bangsa Jepang dan Korea. Jika “akulturasi” budaya-budaya etnik Nusantara itu bisa berlangsung mulus secara organis, barangkali wujud sintesis budaya itu bisa diartikan sebagai “puncak-puncak” budaya Nusantara versi baru, sebagaimana pernah digagas oleh Ki Hadjar dalam Polemik Kebudayaan tahun 1930-an, tapi terbentuk dari dinamika proses dialogis antar budaya-budaya etnik, bukan yang sudah ada sebelumnya. Itulah yang dilakukan Ki Hadjar Dewantara. la berdialog dengan tradisi lama yang memuat nilai-nilai kearifan lokal yang pada zamannya sedang marak untuk digali maknanya kembali. Diperingatkan olehnya, bahwa pedoman yang harus diingat-ingat ialah: “Syariat tanpa hakikat adalah kosong. Sebaliknya hakikat tanpa syariat menjadi batallah shalat seseorang”. Jadi hakikat dan syariat kedua-duanya penting. Meskipun demikian hakikatlah yang harus diutamakan, sebab mengetahui hakikat lebih sukar daripada melihat syariat.
Gaya kepemimpinan modern sebagaimana dicontohkan oleh Obama yaitu melayani (servant leadership) sesungguhnya sudah sejak lama dikenal. Dalam buku klasik, Servant Leadership: A Journey into the Nature of Legitimate Power and Greatness, Robert Greenleaf mengemukakan ada setidaknya sepuluh karakter yang menjadi ciri dalam servant leadership yaitu listening, empathy, healing, awareness, persuasion, conceptualization, foresight, stewardship, commitment to grow others, dan building the community. Gaya kepemimpinan yang melayani mendorong terjadinya kolaborasi, empati, dan kepercayaan antara atasan dan bawahan. Dengan cara ini, organisasi ternyata dapat menjadi lebih berkembang dan mendorong terciptanya kinerja yang mengesankan. Sebagai Calon Presiden Obama meminta rakyat Amerika untuk menyandingkan kepercayaan dengan demokrasi pluralistik modern, karena menurut pendapatnya, demokrasi menuntut orang-orang yang termotivasi untuk menerjemahkan ajaran agama ke nilai-nilai universal, bukan sekadar menerjemahkan nilai-nilai khusus keagamaan.
Di Indonesia konsep Hamemayu Hayuning Bawana merupakan visi lokal berwawasan global dan universal yang dapat diartikan sebagai cita-cita dan upaya untuk memelihara keselamatan dan kelestarian kehidupan di muka bumi sebagai satu ekosistem yang harmonis. Sebagaimana yang diisyaratkan dalam gelar simbolis Sultan Yogyakarta yaitu Sultan Hamengku Buwana Senapati Ing Ngalaga, Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah. Kata Hamengku Buwana mencakup konsep Hamengku, Hamangku, Hamengkoni dan Buwana. Hamangku mengandung makna mengangkat harkat dan martabat dalam berbagai aspek kehidupan dengan pengabdian tanpa pamrih. Membesarkan hati, dengan lebih banyak memberi dari pada menerima. Hakekat dari pada berbudi bawa leksana itulah makna Hamengku diaktualisasikan. Di dalam watak berbudi terkandung makna rewad dan punishment (memberi penghargaan terhadap yang berjasa dan memberi sanksi kepada yang bersalah), dan di dalam watak bawaleksana terkandung makna menepati janji atau satunya kata dengan perbuatan. Kedua, Hamengku mengandung makna hangrengkuh atau ngemong, melindungi dan mengayomi secara adil, tanpa membeda-bedakan golongan, keyakinan dan agama. Hamengku identik dengan ambeg adil paramarta. Ketiga, Hamengkoni mengandung makna keteladanan dan watak gung binathara. Dalam situasi sulit, pemimpin adalah juga pengayom yang berdiri paling depan (ing ngarsa sung tuladha), menjadi panutan dan tampil mengambil tanggungjawab dengan segala resikonya.
Sementara Senapati Ingalaga mencitrakan sifat ideal seorang satria atau kesatria (knight) yang bertugas sebagai penjaga keamanan, ketentraman dan kedamaian masyarakat dan Negara yang tercakup dalam konsep njaga tentreming praja. Abrurahman Sayidin Panatagama mengisyaratkan tentang tugas seorang muslim terhadap sesama muslim di hadapan Allah S.W.T untuk menuntun kehidupan beragama yang sebenarnya. Khalifatullah menegaskan manusia sebagai pengemban amanah Allah S.W.T bertugas untuk menjaga dan memelihara keseimbangan dan keharmonisan hubungan antar sesama manusia sehingga tercipta rahmatan lil alamien.
Budaya ide Sri Sultan Hamengku Buwono X menjabarkan falsafah Hamemayu Hayuning Bawana menjadi 3 ( tiga ) substansi : Pertama, Rahayuning Bawana Kapurba Waskithaning Manungsa, Kelestarian dunia lebih dipengaruhi oleh kebijaksanaan manusia. Kedua, Darmaning Satriya Mahanani Rahayuning Nagara, Darma bakti kesatria mewujudkan kesejahteraan dan keselamatan Negara. Ketiga, Rahayuning Manungsa Dumadi Karana Kamanungsane, Keselamatan dan kesejahteraan manusia terwujud karena perikemanusiaannya. Sri Sultan Hamengku Buwono X lebih suka memecahkan masalah kehidupan dengan sikap mawas diri atau tepa slira agar dapat menghindari konflik dengan pihak lain. Dengan cara menggali, yakni menggabungkan antara resiko dan rasa akan menghasilkan bentuk pemecahan yang efektif dan efisien . Rumus yang dipakai adalah 4 N (Neng-Ning-Nung-Nang). Neng=Meneng, sebelum berbuat harus memperhatikan perasaan yang tenang, terang dan diam. Ning=wening; hanya dengan meneng jiwa akan menjadi jernih ( wening ). Nung=Anung; Dengan jiwa yang jernih akan dapat berfikir dengan baik. Nang=Menang; Akhir dari proses Neng-Ning-Nung adalah diperoleh hasil pemecahan yang efektif dan efisien.
Dengan demikian gabungan gaya kepemimpinan konvensional dan dan gaya kepemimpinan modern merupakan kombinasi gaya kepemimpinan yang tepat untuk diterapkan di Indoenesia. Kepemimpinan Spiritualistis dapat tampil secara wajar dan diterima oleh banyak warga bahkan lintas negara, diyakini tidak terlepas dari keberadaan bawaleksana yang melekat pada sosok yang bersangkutan (sang pemimpin). Keberhasilan Obama merupakan contoh dimana pada dasarnya masyarakat semakin mendambakan sosok pemimpin yang tidak hanya berada di ”menara gading” saja. Masyarakat semakin mendambakan sosok pemimpin yang mau mengerti dan melayani kebutuhan mereka. Budaya ide Sri Sultan Hamengku Buwono X yang tercermin dalam konsep Hamemayu Hayuning Bawana merupakan sosok pemimpin dambaan masyarakat dan ini merupakan modal utama bagi Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk maju sebagai Calon Presiden Pada Pemilihan Umum Presiden Tahun 2009.

%d blogger menyukai ini: